Tampilkan postingan dengan label IUD (Intra Uterine Device). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IUD (Intra Uterine Device). Tampilkan semua postingan

Prosedur Klinik Proses Pemasangan IUD

Diposting oleh PERPUSTAKAAN ONLINE KEBIDANAN

Untuk mengurangi risiko infeksi pasca pemasangan yang dapat terjadi pada klien petugas klinis harus berupaya untuk menjaga lingkungan yang bebas dari infeksi dengan cara sebagai berikut:

  • Tidak melakukan pemasangan bagi klien dengan riwayat kesehatan maupun hasil pemeriksaan fisiknya menunjukkan adanya IMS.
  • Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum dan sesudah tindakan.
  • Bila perlu, minta klien untuk membersihkan daerah genitalnya sebelum melakukan pemeriksaan panggul.
  • Gunakan instrumen dan pakai sepasang sarung tangan steril.
  • Setelah memasukkan spekulum dan memeriksa serviks, usapkan larutan antiseptik beberapa kali secara merata pada serviks dan vagina sebelum memulai tindakan.
  • Memasukan AKDR dalam kemasan sterilnya.
  • Gunakan teknik “tanpa sentuh” pada saat pemasangan AKDR untun kengurangi kontaminasi kavum uteri.
  • Buang bahan-bahan terkontaminasi.
  • Segera lakukan dekontaminasi peralatan dan bahan-bahan pakai ulang dalam larutan klorin 0,5% setelah digunakan (Saifuddin, 2003).
More aboutProsedur Klinik Proses Pemasangan IUD

Waktu Pemasangan IUD

Diposting oleh PERPUSTAKAAN ONLINE KEBIDANAN

Untuk Waktu Pemasanangan IUD dapat dipasang diluar hamil dan saat selesai menstruasi. Pemasangan program post partum belum memuaskan karena banyak terjadi ekspulsi dan masyarakat segan untuk kembali.
  • IUD dapat dipasang pada:
1. Bersamaan dengan menstruasi
2. Segera setelah bersih menstruasi
3. Pada masa akhir menstruasi
4. Tiga bulan pasca puerperium
5. Bersamaan dengan seksio secaria
6. Bersamaan dengan abortus dan kuretage
7. Hari kedua – ketiga pasca persalinan (Manuaba, 1998).
  • IUD Tidak dapat dipasang pada:
1. Terdapat infeksi genetalia
a. Menimbulkan eksaserbasi (kambuh) infeksi
b. Keadaan patologis lokal : flungkle, stenosis vagina, infeksi vagina.
2. Dugaan keganasan serviks
3. Perdarahan dengan sebab yang tidak jelas
4. Pada kehamilan : terjadi abortus, mudah perforasi, perdarahan, infeksi.
More aboutWaktu Pemasangan IUD

Pemakaian Dan Penggunaan IUD (Intra Uterine Device)

Diposting oleh PERPUSTAKAAN ONLINE KEBIDANAN

1. Pengertian Pemakaian IUD

Pemakaian IUD adalah seorang wanita yang menggunakan alat kontrasepsi IUD mencegah atau menghindari kehamilan (BKKBN, 2003).

2. Yang Dapat Menggunakan Dan Yang Tidak Dapat menggunakan IUD

  • Yang dapat menggunakan IUD adalah: usia reproduksi, menginginkan menggunakan kontrasepsi jangka panjang, menyusui, setelah mengalami abortus dan tidak terlihat adanya infeksi, risiko rendah dari IMS, tidak menghendaki metode hormonal, dan tidak menyukai untuk mengingat-ingat minum pil setiap hari.
  • Sedangkan yang tidak diperkenankan menggunakan IUD adalah: sedang hamil (diketahui hamil atau kemungkinan hamil), perdarahan vagina yang tidak diketahui (sampai dapat dievaluasi), sedang menderita infeksi alat genital (vaginitis, sevisitis), tiga bulan terakhir sedang mengalami atau sering menderita Penyakit Radang Panggul atau abortus septik, kelainan bawaan uterus yang abnormal atau tumor jinak rahim, kanker alat genital, dan ukuran rongga rahim kurang dari 5 cm (Saifuddin, 2003).
More aboutPemakaian Dan Penggunaan IUD (Intra Uterine Device)

Keuntungan Dan Keterbatasan Memakai IUD (Intra Uterine Device)

Diposting oleh PERPUSTAKAAN ONLINE KEBIDANAN

Keuntungan memakai alat kontrasepsi IUD banyak sekali diantaranya:
  • Memerlukan hanya satu kali motivasi dan pemasangan
  • Tidak ada efek sistemik
  • Dapat mencegah kehamilan dalam jangka panjang
  • Kegagalan yang disebabkan karena kesalahan akseptor tidak banyak
  • Efektifitas tinggi
  • Kesuburan dapat pulih kembali (reversible)
  • Ekonomis

Sedangkan keterbatasan IUD antara lain:

  • Diperlukan pemeriksaan dalam dan penyaringan infeksi ginetalia sebelum pemasangan IUD.
  • Diperlukan tenaga terlatih untuk pemasangan dan pencabutan IUD.
  • Klien tidak dapat menghentikan sendiri setiap saat.
  • Pada penggunaan jangka panjang bisa terjadi aminorhea.
  • Dapat terjadi perforasi uterus pada saat insersi (< 1/1000 kasus).
  • Kejadian kehamilan ektropik relatif tinggi.
  • Bertambahnya risiko mendapat penyakit radang panggul.
  • Terjadi perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan akan berkurang setelah 3 bulan pemakaian).
  • Tidak bisa mencegah IMS termasuk HIV/AIDS.
  • Klien harus memeriksa posisi benang IUD, sedangkan beberapa perempuan tidak mau melakukan hal ini.
More aboutKeuntungan Dan Keterbatasan Memakai IUD (Intra Uterine Device)

Jenis IUD (Intra Uterine Device) Yang Ada Di Indonesia

Diposting oleh PERPUSTAKAAN ONLINE KEBIDANAN

Ada beberapa Jenis IUD (Intra Uterine Device) yang ada di Indonesia antara lain :

1. Cooper – T

Berbentuk T terbuat dari bahan polyethelen dimana dibagian vertikalnya diberi lilitan kawat tembaga halus. Lilitan ini mempunyai efek anti fertilisasi (anti pembuahan) yang cukup baik.

2. Cooper – 7

Berbentuk angka 7 dengan maksud untuk memudahkan pemasangan. Jenis ini mempunyai ukuran diameter batang vertikal 32 mm, ditambahkan gulungan tembaga yang fungsinya sama seperti lilitan tembaga halus pada jenis Cooper – T.

3. Multi Load

Terbuat dari plastik atau polyethelen dengan dua tangan, kiri dan kanan terbentuk sayap yang fleksibel. Batangnya diberi gulungan kawat tembaga untuk menambah efektifitas.

4. Lippes Loop

Terbuat dari polyethelen, berbentuk spiral atau huruf S bersambung. Untuk memudahkan kontrol diberi benang pada ekornya. Lippes Loop mempunyai angka kegagalan yang rendah, keuntungan lain dari AKDR/IUD jenis ini adalah jarang terjadi luka atau porforasi, sebab terbuat dari bahan plastik (Maryani, 2004).
More aboutJenis IUD (Intra Uterine Device) Yang Ada Di Indonesia

Cara Pemasangan Dan Pencabutan IUD (Intra Uterine Device)

Diposting oleh PERPUSTAKAAN ONLINE KEBIDANAN

Apabila prosedur pemasangan telah dijelaskan dan pertanyaan atau kekhawatiran wanita telah diatasi, maka ia kemungkinan besar menjadi lebih santai saat prosedur sehingga memfasilitasi pemasangan dan meminimalkan rasa tidak nyaman. Teknik pemasangan yang benar dapat secara bermakna mengurangi risiko kehamilan dan komplikasi-ekspulsi, perdarahan dan nyeri, perlorasi serta infeksi.

1.     Lampu
2.     Speculum dua katup
3.     Apusan bakleriologis (apabila diindikasikan)
4.     Lidi kapas
5.     Larutan antiseptik
6.     Sarung tangan bersih
7.     Wadah sekali pakai untuk instrument yang sudah dipakai dan sampah klinis
8.     Baki/bengkok steril (wadah untuk instrument pemasangan)
9.     Forseps steril 10 inci untuk memegang spons
10.            Sonde uterus lentur steril yang berskla sentimeter
11.            Forseps jaringan 12 inci atau tenaklum satu-gigi dengan ujung tumpul yang steril
12.            Gunting yang cukup panjang sehingga dapat memotong benang 
AKDR dapat dipasang setiap saat selama siklus menstruasi asalkan kehamilan sudah disingkirkan. AKDR dapat dipasang segera setelah terminasi kehamilan secara penghisapan atau evakuasi aborsi spontan, dan 6 minggu setelah persalinan per vaginam atau melalui seksio sesarea. Pemasangan AKDR pascaplasenta (dalam 48 jam setelah melahirkan) juga aman dan nyaman, terutama apabila wanita selanjutnya sulit berhubungan dengan petugas kesehatan, tetapi angka eksplulsinya tinggi.
Pemasangan AKDR selama masa menstruasi secara konvensional dianjurkan karena beberapa alasan berikut: kecil kemungkinannya ada kehamilan, serviks lebih lunak dan os internus sedikit membuka, kemungkinan pemasangan lebih mudah, dan perdarahan setelah pemasangan tersamar oleh darah menstruasi. Namun, juga ada kekurangan-angka ekspulsi sedikit lebih tinggi karena kontraktilitas uterus meningkat dan sebagian wanita tidak senang apabila diperiksa saat menstruasi.

Karena metode pemasangan berbeda untuk masing-masing alat, maka pemasangan paling aman apabila kita mengikuti petunjuk produsen dengan cermat.
1.     Sepanjang prosedur, harus diterapkan teknik “jangan menyentuh” (no touch technique). Bagian dari sonde dan alat pemasangan yang sudah terisi yang masuk ke dalam uterus jangan disentuh, bahkan dengan tangan yang sudah bersarung, kapanpun. Dengan demikian, pemakaian sarung tangan yang bersih (non-steril) sudah memadai.
2.     Setelah pemeriksaan panggul bimanual, serviks dipajankan dengan speculum sementara wanita berbaring dalam posisi litotomi modifikasi atau posisi lateral.
3.     Serviks dibersihkan dengan antiseptik dan dipegang dengan forseps atraumatik  12 inci (forseps Allis panjang sering digunakan). Tarikan ringan untuk meluruskan kanalis uteroservikalis membantu pemasangan AKDR di fundus.
4.     Sonde uterus dimasukkan dengan htai-hati untuk menentukan kedalaman dan arah rongga uterus serta arah dan kepatenan kanalis servikalis apabila dijumpai spasme/stenosis serviks, maka mungkin perlu dipertimbangkan pemberian anestetik lokal dan dilatasi os serviks.
5.     AKDR dimasukkan ke dalam alat pemasangan sehingga AKDR akan berletak rata dalam bidang transversal rongga uterus saat dilepaskan.
6.     AKDR jangan berada di dalam alat pemasanga lebih dari beberapa menit karena alat ini akan kehilangan “elastisitasnya” dan bentuknya akan berubah.
7.     Tabung alat pemasanga secara hati-hati dimasukkan melalui kanalis servikalis, AKDR dilepaskan sesuai instruksi spesifik untuk masing-masing alat kemudian alat pemasang dikeluarkan.
8.     Setelah pemasangan, dianjurkan untuk melakukan sonde kanalis ulang untuk menyingkirkan kemungkinan AKDR terletak rendah. AKDR harus diletakkan di fundus agar insidensi ekspulsi dan kehamilan rendah.
9.     Benang AKDR harus dipotong dengan gunting panjang sampai sekitar 3 cm dan os eksternus.

1.     Benang terlihat
a.     Gunakan speculum untuk melihat serviks dan lihat dengan jelas adanya benang AKDR
b.     Jepit benang (-benang) dengan kuat dekat os eksternus dengan forceps arteri lurus.
c.      Lakukan tarikan lembut kea rah bawah. Biasanya AKDR akan tertarik dengan mudah dan dengan nyeri minimal. Apabila dijumpai tahanan, atau apabila pasien merasa nyeri, hentikan tarikan dan
d.     Periksa ukuran dan posisi uterus dengan pemeriksaan bimanual.
e.      Jepit serviks dengan forceps jaringan dan lakukan terikan lembut untuk meluruskan kanalis uteroservikalis.
f.       Lanjutkan terikan pada benang dan keluarkan AKDR seperti biasa.
g.     Kadang-kadang kita perlu memberikan anestesia lokal untuk mengurangi rasa tidak nyaman saat pengeluaran.
2.     Apabila benang putus
Sewaktu pengeluaran, kanalis servikalis harus dieksplorasi secara hati-hati dengan forseps arteri lurus untuk memeriksa apakah ujung bawah AKDR telah turun ke kanalis servikalis. Apabila terasa, maka batang vertical AKDR dapat dijepit dan dikeluarkan. Apabila AKDR seluruhnya berada di dalam rongga uterus, maka dapat dilakukan eksplorasi rongga uterus dengan forceps bengkok yang kecil dan panjang atau “pengait” untuk mengetahui lokasi dan mengeluarkan AKDR. Dilatasi serviks dapat dicapai dengan pemberian misoprostol 400 μg per vagina sebelum eksplorasi uterus. Hanyar dokter yang berpengalaman dalam teknik intrauterus yang boleh melakukan prosedur semacam ini.
3.     Perubahan AKDR
AKDR sebaiknya tidak diganti sebelum interval yang dianjurkan karena pengeluaran dan pemasangan kembali meningkatkan risiko kegagalan, ekspulsi, dan infeksi. Pada wanita yang berusia 40 tahun atau lebih, AKDR yang mengandung tembaga dapat dibiarkan di tempatnya sampai 12 bulan setelah periode menstruasi terakhir.
Klik dibawah untuk Download file
More aboutCara Pemasangan Dan Pencabutan IUD (Intra Uterine Device)

Prosedur Pemasangan Dan Pencabutan Intra Uterine Device (IUD)

Diposting oleh PERPUSTAKAAN ONLINE KEBIDANAN

A.   Prosedur Kerja Pemasangan IUD
Kebijaksanaan :
1.     Petugas harus siap ditempat.
2.     Harus ada permintaan dan persetujuan dari calon peserta.
3.     Ruang pemeriksaan yang tertutup, bersih, dan cukup ventilasi.
4.     Alat-alat yang tersedia :
a.     Gyn bed
b.     Timbangan berat badan
c.      Tensimeter dan stetoskop
d.     IUD set steril
e.      Bengkok
f.       Lampu
g.     Kartu KB (kl, K IV)
h.     Buku-buku administrasi dan registrasi KB
i.       Meja dengan duk steril.
j.       Sym speculum
k.     Sonde rahim
l.       Lidi kipas dan kapas first aid secukupnya.
m.  Busi / dilatator hegar
n.     Kogel tang
o.     Pincet dan gunting

Langkah-langkah :
1.     Memberi penjelasan kepada calon peserta mengenai keuntungan,efek samping dan cara menanggulangi efek samping.
2.     Melaksanakan anamnese umum, keluarga, media dan kebidanan.
3.     Melaksanakan pemeriksaan umum meliputi timbang badan,mengukur tensimeter.
4.     Mempersilakan calon peserta untuk mengosongkan kandung kemih.
5.     Siapkan alat-alat yang diperlukan.
6.     Mempersilakan calon peserta untuk berbaring di bed gynaecologi dengan posisi Lithotomi.
7.     Petugas cuci tangan
8.     Pakai sarung tangan kanan dan kiri
9.     Bersihkan vagina dengan kapas first aid
10.            Melaksanakan pemeriksaan dalam untuk menentukan keadaan posisi uterus.
11.            Pasang speculum sym.
12.            Gunakan kogel tang untuk menjepit cervix.
13.            Masukkan sonde dalam rahim untuk menentukan ukuran, posisi dan bentuk rahim.
14.            Inserter yang telah berisi AKDR dimasukkan perlahan-lahan ke dalam rongga rahim, kemudian plugger di dorong sehingga AKDR masuk ke dalam inserter dikeluarkan.
15.            Gunting AKDR sehingga panjang benang ± 5 cm
16.            Speculum sym dilepas dan benang AKDR di dorong ke samping mulut rahim.
17.            Peserta dirapikan dan dipersilakan berbaring ± 5 menit
18.            Alat-alat dibersihkan
19.            Petugas cuci tangan
20.            Memberi penjelasan kepada peserta gejala-gejala yang mungkin terjadi / dialami setelah pemasangan AKDR dan kapan harus kontrol
21.            Membuat nota pelayanan
22.            Menyerahkan nota pelayanan kepada peserta untuk diteruskan ke bagian administrasi pelayanan.
23.            Mencatat data pelayanan dalam kartu dan buku catatan untuk dilaporkan ke bagian Rekam Medik.

Catatan :
a.     Bila pada waktu pamasangan terasa ada obstruksi, jangan dipaksa (hentikan) konsultasi dengan dokter.
b.     Bila sonde masuk ke dalam uterus dan bila fundus uteri tidak terasa, kemungkinan terjadi perforasi, keluarkan sonde, dan konsultasikan ke dokter.
c.      Keluarkan sonde dan lihat batas cairan lendir atau darah, ini adalah panjang rongga uterus. Ukuran normal 6 – 7 cm.
d.     Bila ukuran uterus kurang dari 5 cm atau lebih dari 9 cm jangan dipasang.

B.   Prosedur Pencabutan IUD
Tujuan umum :
Agar pasien yang akan melepas AKDR mendapat pelayanan yang cepat, puas, dan sesuai dengan kebutuhan.
Tujuan khusus :
Mempersiapkan ibu agar cepat mengenal efek samping dilepaskan AKDR.
Kebijaksanaan :
1.     Petugas harus siap ditempat
2.     Harus ada permintaan dan persetujuan dari calon peserta.
3.     Ruang pemeriksaan yang tertutup, bersih, dan cukup ventilasi.
4.     Alat-alat yang harus tersedia lengkap sesuai dengan standart yang ditentukan :
a.     Meja dengan alas duk steril.
b.     Sarung tangan kanan dan kiri
c.      Lidi kapas, kapas first aid secukupnya.
d.     Cocor bebek / speculum
e.      Tampon tang.
f.       Tutup duk steril
g.     Bengkok
h.     Lampu
i.       Timbangan berat badan
j.       Tensimeter dan
k.     Stetoskop

Langkah-langkah :
1.     Memberi penjelasan kepada calon peserta mengenai keuntungan, efek samping dan cara menanggulangi efek samping.
2.     Melaksanakan anamnese umum, keluarga, media dan kebidanan.
3.     Melaksanakan pemeriksaan umum meliputi timbang badan, mengukur tensimeter.
4.     Siapkan alat-alat yang diperlukan.
5.     Mempersilakan calon peserta untuk berbaring di bed gynaecologi dengan posisi Lithomi.
6.     Bersihkan vagina dengan lysol
7.     Melaksanakan pemeriksaan dalam untuk menentukan keadaan dan posisi uterus.
8.     Pasang speculum sym.
9.     Mencari benang IUD kemudian dilepas dengan tampon tang
10.            Setelah IUD berhasil dilepas, alat-alat dibereskan.
11.            Pasien dirapikan kembali
12.            Memberi penjelasan kepada peserta gejala-gejala yang mungkin terjadi / dialami setelah AKDR dilepas dan kapan harus kontrol
13.            Menyerahkan nota pelayanan dan menerima pembayaran sesuai dengan nota
14.            Mencatat data pelayanan dalam kartu dan buku catatan, register KB untuk dilaporkan ke bagian Rekam Medik.
 Klik dibawah untuk Download file
More aboutProsedur Pemasangan Dan Pencabutan Intra Uterine Device (IUD)